Perjuangan Sang Musafir, Seruan Merawat Bumi dan Membangun Solidaritas Lintas Iman

Jakarta , Ordo Kapusin Medan – Ordo Kapusin Provinsi Medan (OKPM) memandang peluncuran dan bedah buku Perjuangan Sang Musafir: Refleksi, Kepedulian, dan Gerakan Merawat Rumah Bersama sebagai momentum penting untuk memperluas kesadaran ekologis sekaligus memperkuat solidaritas lintas agama dalam menghadapi krisis lingkungan.
Buku karya Pastor Walden Sitanggang OFMCap dan Pastor Supriyadi Pardosi OFMCap tersebut merefleksikan perjalanan perjuangan, kepedulian, serta komitmen terhadap keutuhan ciptaan. Bagi Ordo Kapusin, perhatian terhadap kelestarian alam bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan bagian integral dari panggilan spiritual, tanggung jawab moral, dan pelayanan kepada kehidupan.
Semangat tersebut berakar pada spiritualitas Santo Fransiskus dari Assisi, yang mengajak manusia membangun persaudaraan dengan seluruh ciptaan. Bumi bukan sekadar objek eksploitasi untuk memenuhi kepentingan ekonomi, melainkan rumah bersama yang harus dirawat dengan penuh tanggung jawab demi keberlangsungan hidup generasi sekarang dan mendatang.
Dalam perspektif Ordo Kapusin Provinsi Medan, perjuangan ekologis tidak dapat berhenti pada refleksi dan wacana. Kesadaran perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata melalui perlindungan hutan, pemulihan kawasan yang rusak, pelestarian sumber air, serta pendampingan masyarakat yang terdampak kerusakan lingkungan.
Keterlibatan tokoh lintas agama, akademisi, aktivis lingkungan, dan berbagai elemen masyarakat dalam kegiatan bedah buku ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap bumi merupakan panggilan kemanusiaan yang melampaui sekat-sekat agama dan identitas kelompok.
Ekologi sebagai Ruang Perjumpaan Lintas Iman
Bagi OKPM, dialog lintas agama memiliki arti strategis dalam membangun gerakan ekologis bersama. Setiap tradisi keagamaan memiliki ajaran dan nilai yang mendorong manusia untuk menghormati kehidupan, menjaga keseimbangan alam, serta bertanggung jawab terhadap sesama dan lingkungan.
Karena itu, kerja sama lintas iman perlu dikembangkan dari dialog menuju aksi bersama. Perbedaan keyakinan tidak seharusnya menjadi penghalang untuk membangun komitmen kolektif dalam menghadapi deforestasi, pencemaran lingkungan, krisis air, dan berbagai persoalan ekologis lainnya.
Semangat persaudaraan universal yang dihidupi dalam tradisi Fransiskan juga mengingatkan bahwa mereka yang paling rentan sering kali menjadi pihak yang paling merasakan dampak kerusakan lingkungan. Oleh sebab itu, perjuangan menjaga alam harus berjalan seiring dengan keberpihakan kepada masyarakat kecil, masyarakat adat, petani, dan kelompok yang kehidupannya bergantung langsung pada kelestarian ekosistem.
Dari Refleksi Menuju Gerakan Nyata
Buku Perjuangan Sang Musafir diharapkan menjadi salah satu sarana untuk memperluas gerakan merawat rumah bersama. Rencana reforestasi atau pemulihan tutupan hutan di Dolok Parmanongan dan Sihaporas, sebagaimana disampaikan dalam pemberitaan kegiatan, menjadi contoh penting bahwa refleksi ekologis perlu diwujudkan dalam program konkret dan berkelanjutan.
Bagi Ordo Kapusin Provinsi Medan, gerakan semacam ini membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk komunitas gerejawi, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat sipil, tokoh agama, pemerintah, serta masyarakat setempat. Pemulihan lingkungan harus memperhatikan keberlanjutan ekosistem sekaligus kebutuhan dan hak masyarakat yang hidup di sekitarnya.
Lebih jauh, pendidikan ekologis perlu terus dikembangkan agar kepedulian terhadap bumi menjadi bagian dari pembentukan karakter, kehidupan komunitas, dan pelayanan pastoral. Menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab generasi mendatang, melainkan kewajiban yang harus dimulai sekarang.
Melalui semangat Fransiskan, Ordo Kapusin Provinsi Medan diajak untuk terus menghidupi kesederhanaan, solidaritas, persaudaraan, dan penghormatan terhadap seluruh ciptaan. Nilai-nilai tersebut menjadi dasar untuk membangun cara hidup yang tidak merusak alam, melainkan memulihkan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan seluruh ciptaan.
Pada akhirnya, Perjuangan Sang Musafir mengingatkan bahwa perjalanan merawat bumi adalah perjalanan bersama. Tidak ada satu agama, komunitas, atau lembaga yang dapat menyelesaikan krisis ekologis sendirian. Diperlukan keberanian untuk bersuara, kesediaan untuk bekerja sama, dan ketekunan untuk melakukan perubahan nyata.
Merawat bumi adalah bagian dari merawat kehidupan. Membangun persaudaraan lintas iman adalah bagian dari memperkuat perjuangan itu. Inilah semangat yang perlu terus dihidupi: berjalan bersama, bekerja bersama, dan bertanggung jawab bersama demi keutuhan ciptaan.
